Pembangunan Ruang Kelas SDN 4 Margadadi Diduga Asal-asalan: Pekerja Tak Gunakan APD, Material Berserakan

Media Buser Presisi

Media Buser Presisi
Ungkap Fakta Melalui Berita

Berita Terkini

Jalin Kedekatan, Polresta Tangerang Bagikan Sembako untuk Ojol dan Opang

Polresta Tangerang membagikan bantuan paket sembako kepada para pengemudi ojek online (ojol) dan ojek pangkalan (opang) di Gedung Serba Guna...

Postingan Populer

Rabu, 24 September 2025

Pembangunan Ruang Kelas SDN 4 Margadadi Diduga Asal-asalan: Pekerja Tak Gunakan APD, Material Berserakan

Indramayu, (Buserpresisi.com) – Proyek pembangunan ruang kelas baru di UPTD SDN 4 Margadadi yang dikerjakan oleh CV Sumber Nol Sembilan yang beralamat di jalan olahraga 1. No. 156 Rt.009 Rw.002 Desa Klayan Kecamatan Gunung Jati menuai sorotan tajam. Meski digelontorkan anggaran sebesar Rp 347.298.000 yang bersumber dari Dana Alokasi Umum (DAU) tahun 2025, kondisi di lapangan justru memunculkan banyak pertanyaan.

Pantauan awak media di lokasi menunjukkan bahwa para pekerja tidak mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai standar K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja). Selain itu, material bangunan dibiarkan berserakan di lingkungan sekolah, tanpa pengamanan yang memadai. Hal ini tentu berpotensi membahayakan keselamatan siswa, terutama saat jam istirahat atau pergantian pelajaran.



Mirisnya, hingga berita ini diturunkan, tidak tampak adanya pengawasan dari pihak dinas terkait. Saat dikonfirmasi, Kepala Bidang SD Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu, Hj. Rutesih, M.Pd, hanya memberikan jawaban singkat.

"Maaf saya baru menjabat beberapa hari, jadi belum mengetahui," ujarnya kepada awak media.

Pernyataan tersebut justru menambah kegelisahan publik. Bagaimana mungkin sebuah proyek pendidikan yang menggunakan dana ratusan juta rupiah dari uang rakyat tidak terpantau oleh dinas terkait? Di sisi lain, kurangnya perhatian terhadap aspek keselamatan di lingkungan sekolah menunjukkan adanya indikasi lemahnya manajemen pelaksanaan proyek.

Warga sekitar dan orang tua siswa mulai menyuarakan kekhawatiran mereka. Mereka berharap proyek ini tidak hanya selesai tepat waktu, tetapi juga mengutamakan keselamatan dan kualitas bangunan. "Kalau begini caranya, bisa-bisa anak kami yang jadi korban," keluh salah satu wali murid yang enggan disebutkan namanya.



Publik kini menanti respons tegas dari Dinas Pendidikan dan Inspektorat Indramayu terhadap kondisi ini. Transparansi, pengawasan, dan akuntabilitas menjadi tuntutan utama agar proyek yang seharusnya menjadi investasi pendidikan masa depan, tidak justru berubah menjadi sumber potensi masalah. (Wira/Ato)

0 comments:

Posting Komentar