Memayu Buyut Trusmi Berlangsung Meriah, Bupati Imron Rosyadi Hadir Langsung di Tengah Warga

Media Buser Presisi

Media Buser Presisi
Ungkap Fakta Melalui Berita

Berita Terkini

Kapolsek Mauk Pimpin Langsung Apel Siaga Minggu Pagi, Pastikan Keamanan Wilayah Tetap Kondusif

MAUK — Di tengah suasana libur akhir pekan, jajaran Kepolisian Sektor (Polsek) Mauk tetap menunjukkan komitmen tinggi dal...

Postingan Populer

Minggu, 01 November 2026

Memayu Buyut Trusmi Berlangsung Meriah, Bupati Imron Rosyadi Hadir Langsung di Tengah Warga

BUSER PRESISI COM. CIREBON, — Suasana riuh rendah penuh kehangatan menyelimuti kawasan Desa Trusmi Wetan (sering disebut Desa Trusmi), Kecamatan Weru serta wilayah sekitar Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, saat tradisi adat Memayu Buyut Trusmi yang dikenal luas sebagai Arak‑arakan atau Ider‑ideran digelar secara megah. Ribuan warga dari berbagai penjuru Kabupaten Cirebon dan daerah tetangga tumpah ruah menyaksikan parade budaya turun‑temurun ini, sementara Bupati Cirebon H. Imron Rosyadi beserta jajaran pejabat daerah hadir langsung untuk turut menyaksikan serta memberikan dukungan terhadap pelestarian warisan leluhur tersebut.pada hari Minggu (01/11/2026).
 
Memayu Buyut Trusmi bukan sekadar karnaval biasa. Secara etimologi, kata "Memayu" berarti memperindah, merawat, serta memperbaiki; inti utama tradisi ini adalah ritual penggantian atap welit (anyaman alang‑alang) pada Kompleks Keramat Ki Buyut Trusmi, sekaligus ungkapan syukur dan doa menyambut datangnya musim hujan, memohon keselamatan, kelimpahan hasil bumi, serta kerukunan bagi seluruh masyarakat. Sejarah mencatat tradisi ini telah berlangsung turun‑temurun, sedangkan Ider‑ideran atau arak‑arakan menjadi semarak pengiring yang semakin memperkuat kebersamaan warga sejak puluhan tahun silam. 
Sejak pagi hari, jauh sebelum rombongan utama bergerak, warga sudah mulai berdatangan ke sepanjang jalur lintasan. Penonton memenuhi jalan‑jalan utama di sekitar Gapura Batik Trusmi, Jalan Buyut Trusmi, Jalan Otto Iskandardinata, Jalan Panembahan hingga kawasan Lampu Merah Plered.,  Di sepanjang rute tampak barisan pusaka, sesepuh adat, juru kunci keramat, pacuan kuda, tarian tradisional, musik tarling, barisan batik Trusmi, ogoh‑ogoh, hasil kerajinan, makanan khas Cirebon, serta kreativitas warga yang dihasilkan secara swadaya. ,  Rombongan bergerak beriringan dengan penuh tertib menelusuri jalur yang telah ditetapkan sebelum kembali menuju Kompleks Keramat Buyut Trusmi untuk dilanjutkan ke ritual inti Memayu. 
 
Kehadiran Bupati H. Imron Rosyadi dan jajaran pejabat menjadi titik emosional tersendiri bagi warga. Meski detail pidato resmi belum seluruhnya dirilis secara lengkap oleh panitia, kehadiran tersebut menjadi bukti nyata perhatian Pemerintah Kabupaten Cirebon terhadap warisan budaya lokal. Bagi masyarakat, kehadiran pemimpin daerah di tengah keramaian bukan hanya simbol kehadiran negara, melainkan penguatan semangat bahwa budaya Trusmi adalah kebanggaan bersama yang harus terus dijaga.

Untuk menjamin kelancaran dan keamanan, Polresta Cirebon, Satlantas, Dishub Kabupaten Cirebon serta Forkopimda telah menyiapkan rekayasa lalu lintas sejak dini hari. Imbauan telah disampaikan kepada pengendara yang akan melintasi jalur Pantura Plered agar memilih jalur alternatif guna menghindari kepadatan mulai pagi hingga sore hari. Personel gabungan bertugas mengatur arus penonton, menjaga jalur parade, serta memastikan seluruh rangkaian berjalan aman dan kondusif. 
 

Sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada tahun 2025, Memayu Buyut Trusmi kini semakin dikenal luas, tak hanya sebagai ritual adat, tetapi juga sebagai magnet pariwisata budaya dan penggerak UMKM lokal.  Sepanjang jalur parade tampak warung‑warung kecil, pedagang makanan khas, penjual batik dan kerajinan tangan yang ramai dikunjungi wisatawan maupun warga lokal. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi leluhur mampu hidup beriringan dengan kehidupan ekonomi masyarakat masa kini. 
 
Salah seorang warga yang hadir sejak pagi menyampaikan perasaan harunya: “Alhamdulillah suasana benar‑benar meriah sekali. Kami senang sekali melihat Bupati dan pejabat hadir langsung di tengah kami. Ini membuat kami semakin semangat untuk terus menjaga Memayu Buyut Trusmi agar tidak hilang ditelan zaman.”
 
Panitia adat dan juru kunci menyatakan bahwa arak‑arakan merupakan bagian awal dari rangkaian keseluruhan Memayu, sebelum dilanjutkan ke prosesi penggantian welit serta doa‑doa adat di Kompleks Keramat Buyut Trusmi.  Redaksi masih menunggu rilis resmi lengkap dari panitia adat, Disbudparpora Kabupaten Cirebon serta Pemerintah Kabupaten Cirebon terkait jadwal persis ritual inti, rincian rute penuh, serta nama lengkap seluruh pejabat yang hadir secara resmi.
 
Dengan berakhirnya arak‑arakan hari ini, harapan besar pun mengemuka: agar Memayu Buyut Trusmi tetap menjadi perekat persaudaraan masyarakat Cirebon, terus dijaga oleh generasi muda, dan senantiasa menjadi cermin kebesaran budaya tanah leluhur yang terus "semi" selamanya.

((A, Rahmat))

0 comments:

Posting Komentar