MAJALENGKA, Bupati Majalengka melakukan peninjauan langsung terhadap kondisi kekeringan dan dampaknya pada areal persawahan di wilayah Kecamatan Jatitujuh pada Rabu (22/7/2026). Peninjauan ini dilakukan guna memonitor dampak kemarau panjang yang disebabkan oleh fenomena iklim ekstrem, El Nino.
Dalam kunjungan lapangan tersebut, Bupati Eman Suherman didampingi oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Gatot Sulaeman, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Agus Tamim, Camat serta jajaran Muspika Jatitujuh, serta perwakilan dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisangarung.
Bupati Majalengka, Eman Suherman menyampaikan bahwa kunjungan ini bertujuan untuk memastikan kondisi riil persawahan dan menginventarisasi permasalahan yang dihadapi para petani di lapangan.
"Hari ini saya bersama teman-teman dari Pak Kadis Pertanian dan Kepala BPBD memonitor langsung terkait dampak kemarau panjang. Kami ingin memastikan kondisi sawah yang dikelola oleh para petani. Berdasarkan data, memang ada wilayah yang mengalami kekeringan, tetapi ada juga yang hari ini bisa tersenyum lega," ujar Bupati di lokasi peninjauan.
Peta Kondisi Wilayah dan Upaya Penanganan.
Dari hasil pemantauan di beberapa titik, Bupati memaparkan beberapa kondisi utama untuk Kecamatan Kertajati (Sawah Tadah Hujan), wilayah ini mengalami kekeringan cukup parah karena tidak memiliki sumber mata air maupun saluran irigasi. Sebagai solusi jangka panjang, pemerintah daerah mengkaji aspirasi warga untuk memperbesar kapasitas embung penampung air hujan.
Sedangkan di Desa Panyingkiran, Kecamatan Jatitujuh Sekitar 72 hektar lahan pertanian dipastikan mengalami gagal panen akibat ketiadaan pasokan air. Meski sempat dilakukan upaya pembuatan sumur bor, pengujian geolistrik menunjukkan tidak adanya sumber air tanah di wilayah tersebut. Pemerintah akan berkoordinasi dengan pemerintah pusat serta mengevaluasi pola tanam (seperti beralih ke palawija atau tanaman reboisasi/huma).
Untuk wilayah Kecamatan Jatitujuh menurut Bupati ada lima desa meliputi Desa Jatitujuh, Jatitengah, Biyawak, Jatiraga, Pilangsari dan Puteridalam. Wilayah yang biasanya rentan gagal panen hingga ribuan hektar saat kemarau kini berhasil terselamatkan berkat sodetan air dari Bendung Rentang.
"Biasanya di musim kemarau hanya sekitar 500 hektar yang bisa panen. Namun setelah sodetan dari Bendung Rentang dibuka sekitar satu bulan lalu, hampir 2.000 hektar lahan di lima desa ini airnya tercukupi dan terhindar dari gagal panen," tegas Bupati.
Atas keberhasilan tersebut, Bupati menyampaikan apresiasi dan terima kasih mendalam kepada jajaran BBWS Cimanuk Cisangarung yang telah merealisasikan pembuatan sodetan demi kemaslahatan para petani di Majalengka.
Untuk wilayah-wilayah yang masih rawan kekeringan, Pemerintah Kabupaten Majalengka berkomitmen untuk menyiapkan langkah taktis dan strategis, mulai dari normalisasi/pembesaran embung hingga penyesuaian regulasi pola tanam dan komoditas pertanian yang hemat air.
Dampak positif dari tersedianya pasokan air melalui sodetan ini dirasakan langsung oleh para petani setempat.
Aep (56), salah seorang petani dari Desa Panyingkiran, mengungkapkan rasa bahagia atas kunjungan Bapak Bupati ke wilayahnya. Ini sebagai bentuk perhatian pemerintah terhadap kedaan petani yang sedang mengalami kekeringan.
"Jujur, kehadiran Pak Bupati langsung ke lapangan bersama jajaran DKP3, BPBD, hingga pihak BBWS membuat kami para petani merasa benar-benar diperhatikan. Kami tidak ditinggal sendirian saat menghadapi ancaman kekeringan ini. Dengan adanya solusi dari pemerintah diharapkan kekeringan bisa teratasi dan petani bisa panen dengan hasil bagus," harapnya.
( Abdan.S )




0 comments:
Posting Komentar